
Wartawan Senior/Mantan Ketua DPRD Ogan Ilir 2 Periode
KEPENGURUSAN Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ogan Ilir (OI) periode 2021 – 2026, telah berjalan lima tahun, berakhir bulan Agustus 2026. Saat ini menurut salah seorang pengurusnya, Musda MUI OI tidak lama lagi akan digelar.
Sejak OI berdiri tahun 2004, sudah empat orang pernah menjadi Ketua MUI OI, yakni KH Muhsin Qori, BA, KH M Dani Ahmad, Drs KH Najib Subki (Ketua antar waktu), dan DR KH Nurhasan, M.Pd.
Era kepengurusan MUI OI selama ini sudah cukup baik, hanya saja belum ada gebrakan besar yang dapat dijadikan catatan emas.
BACA JUGA :
Herman Deru Targetkan Sumsel Kembali Masuk Lima Besar Nasional Melalui MTQ XXXI Tingkat Provinsi
Ogan Ilir di awal berdirinya mempopulerkan motto sebagai Kabupaten /Daerah SANTRI. SANTRI selain berupa akronim, juga mengartikan bahwa di daerah yang bergelar Bumi Caram Seguguk ini, memang basic para ulama. Di daerah ini ada tiga pondok pesantren tua yang sangat dikenal yakni Ponpes Nurul Islam Sri bandung, Ponpes Rhaudatul Ulum Sakatiga, dan Ponpes Al-Ittifaqiah Indralaya. Bahkan Ponpes Raudhatul Ulum dan Al-Ittifaqiah, masuk dalam jajaran Ponpes terbesar di Indonesia. Kebetulan tokoh dari kedua pesantren hebat ini berasal dari satu rumpun yakni Desa Sakatiga. Karenanya tak heran kalau desa Sakatiga dijuluki “Makkah kecik”.
Bukan itu saja, di dunia MTQ dan STQH tingkat provinsi, kafilah Ogan Ilir, sudah lima tahun terakhir tidak pernah lepas dari posisi 3 besar. Bahkan pernah menyandingkan gelar juara umum MTQ dan STQH. Bahkan kalau antar pemilik “atlet Quran” ini kompak, sangat sulit untuk mengalahkan kafilah Ogan Ilir. Karena itu pula wajar selalu ada sejumlah “atlet Quran” dari OI, yang juga tampil di ajang MTQ dan STQH nasional mewakili Sumsel.
BACA JUGA :
Bupati Panca Hadiri Haflah Milad ke-75 Ponpes Raudhatul Ulum
Wakil Bupati Ogan Ilir Menerima Kunjungan Kerja Menko Bidang Pangan di Ponpes Al-Ittifaqiah
Karena itu ke depan sangat relevan dan sangat strategis bila potensi yang sudah ada tersebut, dan membuat harum nama kabupaten ini, untuk terus dijaga dan ditingkatkan. Tentu selain dukungan pemerintah daerah, yang sangat dibutuhkan adalah figur yang menahodai MUI OI berasal dari orang-orang yang sudah terbukti kepemimpinan dan karyanya. Dan saya melihat dua figur sentral yakni KH Tol’at Wafa Ahmad, Lc dan DR KH Mudrik Qori, MA, sudah terbukti prestasinya dalam pengembangan pendidikan Islam melalui pondok pesantrennya masing-masing.
Karena lebih senior, KH Tol’at Wafa Ahmad diberikan posisi sebagai Ketua Dewan Pertimbangan, dan KH Mudrik Qori sebagai ketua umum.
Untuk posisi wakil-wakil ketua umum, sebaiknya dari ulama-ulama muda intelektual seperti Dr KH Nurhasan, M.Pd, DR (c) KH Agus Jaya, Lc, M.Hum, DR KH Sayid Mahadir, DR KH Husnul Amin, DR Zaimuddin, DR KH Abul Her, DR H Muhsin Abdullah, ST,MM, MT dan yang lain-lainnya, untuk bersatu padu membantu duet Kiai Wafa-Kiai Mudrik. Saya yakin kalau duet Kiai Wafa – Kiai Mudrik yang tampil sebagai pimpinan MUI OI ke depan, DR KH Nurhasan akan legowo walau berada pada posisi wakil ketua umum.
Dan bila gagasan ini berhasil, saya yakin rekomendasi Musda MUI OI tahun 2021, yakni Menjadikan Ogan Ilir “kiblat” Pendidikan Islam Termashur di Asia Tenggara Bisa Terwujud.**





